Resensi Novel “Garis Waktu”

Garis Waktu undefined

Judul                            : Garis Waktu

Penulis                         : Fiersa Besari

Penerbit                       : Media Kita

Tahun Terbit                : 2016

Jumlah Halaman          : 216 (termasuk halaman romawi dan halaman kosong penutup)

SINOPSIS

Novel “Garis waktu” karya Fiersa Besari ini ditulis dengan bahasa puitis yang sangat kental. Menceritakan perjalanan hidup pada suatu garis waktu. Tentang pertemuan kemudian perpisahan. Tentang terluka dan kehilangan pegangan. Tentang fase dimana kita rindu pada masa lalu dan ingin mengulang kembali masa – masa itu. Maka sesungguhnya yang terbaik adalah ikhlas. Melepaskan sesuatu dengan hati yang lapang. Percaya bahwa segalanya adalah rentetan kisah yang tak pernah bisa kita ubah semau diri.

Terlepas dari bahasanya yang puitis, novel ini ditulis sesuai dengan realita atau kehidupan asli yang benar – benar dialami oleh manusia pada tiap fasenya. Disinilah tertulis setiap fase yang harus kita lewati, bersiap dengan segala kenyataan yang tak terduga. Pada akhirnya, garis waktu tak pernah merangkak mundur. Ia maju bersama kisah yang telah berlalu dan menyongsong kisah baru kedepannya.

Resensi Novel “Rindu”

Rindu undefined

Judul                            : Rindu

Penulis                         : Tere Liye (Darwis)

Penerbit                       : Republika

Tahun Terbit                : 2014

Jumlah Halaman          : 544 (Termasuk halaman romawi dan halaman kosong penutup)

SINOPSIS

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

rindu

Novel “Rindu” menceritakan kisah perjalanan haji pada saat Indonesia masih dijajah Hindia-Belanda. Belanda memberikan layanan haji untuk orang pribumi yang  mempunyai cukup uang untuk melaksanakan haji. Di sebuah kapal uap besar bernama Blittar Holand, ribuan orang membawa kerinduan. Namun selain kerinduan, ada seorang pemuda pergi karena cinta. Pemimpin yang mengemban kebencian. Seorang  wanita dijerat masa lalunya yang kelam. Dan seorang bijaksana yang selalu bisa menjawab pertanyaan namun membawa pertanyaan besar dalam perjalanannya.

Ialah Ambo Uleng, pemuda yang berlayar tanpa tujuan. Pelaut tangguh yang hancur karena cinta. Ikut berlayar sembari mengemban sakit. Hingga akhirnya tujuannya menjadi rinci. Makasar yang ia tinggalkan akhirnya adalah tempatnya kembali berlabuh.

Tak hanya Ambo, Daeng Adipati seorang pemimpin berlayar dengan kebencian. Memeluk rindu bersama benci. Akankah kerinduan nan suci ini akan tetap suci bersama segumpal kebencian yang tetap bersarang di dalam sana? Dua hal berseberangan justru bersandingan. Pertanyaan besarnya akan terjawab disini.

Pada Jiwa lain, seorang wanita keturunan China bahkan membawa pertanyaan besar atas masa lalunya. masa lalu kelamnya kini menjadi potongan kisah yang tak henti menghantuinya. Tentang rindu dan dosa. Dua hal berkecambuk, bagaimana mungkin kerinduan yang suci membersamai jiwa pendosa. Pertanyaan besarnya akan terjawab dalam perjalanannya bersama rindu.

Pada tiga jiwa yang membawa tanyanya. Ada seorang ulama, Gurutta Ahmad Karaeng yang selalu mempunyai jawaban atas segala pertanyaan justru memiliki pertanyaan besar yang tak pernah bisa ia jawab. Pertanyaan besarnya akan bertemu jawab pada perjalananya bersama kerinduan.

Novel ini benar – benar digarap dengan luar biasa. Suasana Indonesia pada zaman penjajahan Hindia – Belanda menjadi nuansa apik dalam perjalanan bersama kerinduan. Perjalanan yang dikemas apik dengan penggambaran suasana kapal menambah penyampaian yang dalam atas kisah perjalanan yang dilakukan para pengemban rindu.

Resensi Novel “Api Tauhid”

Api Tauhid undefined

Judul                            : Api Tauhid

Penulis                         : Habiburrahman El-Shirazhy

Penerbit                       : Republika

Tahun Terbit                : 2014

Jumlah Halaman          : 591 (termasuk halaman romawi )

SINOPSIS

Novel “Api Tauhid” karya Habiburrahman El- Shirazhy ini menceritakan kisah seorang anak muda bernama fahmi, mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan agama di salah satu universitas islam di Madinah.

Namun kenyataan pahit mengenai pernikahannya bersama Nuzula, anak ulama besar di daerah kelahiranya membuat Fahmi hancur. Permintaan cerai oleh sang istri dan keluarganya adalah pukulan besar untuk Fahmi dan keluarganya. Hati Fahmi hancur dan memutuskan mengembara ke Turki bersama sahabatnya.

Perjalanan Fahmi di Turki adalah mengulik kehidupan seorang Ulama besar Islam yaitu Syaikh Badiuzzaman said Nursi. Dari cerita sahabatnya, Fahmi mengenal kisah Said Nursi yang sangat luar biasa. Manusia yang dianugerahi kemampuan luar biasa oleh Allah SWT. Masa kecilnya yang berbeda dengan anak kecil pada umumnya, kemudian masa remajanya yang selalu diisi dengan mengembara mencari ilmu. Menguasai puluhan kitab dalam waktu yang singkat dan sering berdebat dengan para ulama – ulama besar membuat nama Said Nursi dikenal banyak orang. Hingga Said muda yang mencatat sejarah pada masa peradaban islam di Turki. Aksi heroic yang ia lakukan untuk membela islam ditengah gonjang – ganjing pemerintahan Turki pada saat itu adalah sejarah hidup Said Nursi yang selalu mampu membangkitkan kecintaan kita kepada islam.

Fahmi merasa sangat lemah dengan takdir yang Allah tentukkan. Merasa malu pada seorang Said Nursi yang tak pernah memadamkan api tauhidnya. Hingga perjalannya sampai pada titik terang atas segala keganjilannya.

Resensi Novel “Tentang Kamu”

“Tentang kamu

Judul                            : Tentang kamu

Penulis                         : Tere Liye (Darwis)

Penerbit                       : Republika

Tahun terbit                 : 2016

Editor                           : Triana Rahmawati

Harga                           : Rp. 79.000,00

Jumlah Halaman          : 531 Lembar (termasuk halaman angka romawi dan dua halaman kosong    penutup)

SINOPSIS

Novel “Tentang Kamu” ini menceritakan kisah seorang pengacara muda bernama Zaman Zulkarnaen yang menyelesaikan kasus hukum pembagian warisan seorang perempuan bernama Sri Ningsih yang meninggal dunia dengan harta warisan yang banyak. Petualangan Zaman selama sepuluh hari akhirnya menguak kisah kehidupan Sri Ningsih selama tujuh puluh tahun. Selain menemukan pewaris sah atas harta Sri Ningsih, Zaman pun menemukan kebenaran atas misteri yang selama ini disembunyikan.

Resensi Novel “Pergi”

Pergi undefined

Judul                            : Pergi

Penulis                         : Tere Liye (Darwis)

Penerbit                       : Republika

Tahun Terbit                : 2018

Jumlah Halaman          : 457 (termasuk halaman romawi dan lembar kosong penutup)

SINOPSIS

Novel “pergi” ini menceritakan kisah seorang pemuda yang mewarisi kepemimpinan keluarga Tong. Salah satu dari delapan keluarga penguasa shadow economy. Delapan keluarga dengan bisnis gelap dan cara – cara haram demi kebesaran keluarganya. Agam, Si Babi Hutan yang dijemput dari Kampung Talang oleh Tauke Besar. Dididik oleh guru – guru hebat hingga ia siap menjadi penerus di keluarga Tong. Namun pertanyaan besar selalu berkecambah di hatinya.

Hidupnya berubah, ketika menjadi Tauke besar Keluarga Tong. Ia tak pernah jauh dari kekerasan, kekejaman, dan bengis. Delapan keluarga shadow economy saling bersekutu untuk menjatuhkan satu sama lain. Hingga akhirnya Agam berjuang mempertahankan kehormatan keluarga Tong dari ancaman Master Dragon (pemimpin dari delapan keluarga shadow economy).

Kekuasaan sudah Agam dapatkan, namun masa lalunya bersama ayah dan ibunya selalu melahirkan pertanyaan – pertanyaan yang ia cari sembari perjuangannya. Ialah Diego, kakak tiri yang tak pernah ia ketahui. Anak seorang Samad, tukang pukul keluarga Tong (Ayah agam) yang meninggal dengan penggalan kisah – kisah yang harus Agam temukan. Lewat potongan surat – surat yang Diego kirim kepada sang ayah. Agam menemukan kebenaran yang tersembunyi.

Namun di lubuk hati terdalam seorang ‘Babi hutan’ ia membawa pertanyaan besar atas hidupnya. Setelah membesarkan nama Keluarga Tong lalu mau pergi kemana ia selanjutnya? Akan dibawa kemana keluarga Tong? Pertanyaan besar yang ditanyakan sang uwa, Tuanku Imam kini menjadi pertanyaan terbesar yang akan menentukkan kisah hidup Agam berlanjut.

Novel ini digarap dengan sangat apik. Penggambaran peperangan yang membuat pembaca hanyut dalam cerita. Ilustrasi tempat dan markas delapan keluarga shadow economy menjadi daya tarik tersendiri serta penggalan kisah keluarga shadow economy yang dikemas dengan sangat luar biasa mampu membawa pembaca ikut merasakan apa yang terjadi dalam novel tersebut.